Ketika para pakar atau orang
bijak mengatakan untuk tidak meminta kekuatan ketika berdoa adalah supaya tidak
semakin di cobai. Ada beberapa pandangan yang dikemukakan oleh para orang bijak
mengenai pernyataan ini.
Dalam versi agama meminta
kekuatan saat berdoa terkesan seakan manusia mampu melawan/ mengendalikan segala
hal yang terjadi dari luar dirinya. Meminta kekuatan dianggap manusia seolah
mampu menahan segala cobaan dan ujian dalam hidupnya.
Kenapa dikatakan semakin dicobai?
Ketika manusia meminta kekuatan
maka tanpa disadari manusia semakin diuji; kesabarannya, emosinya, mentalnya
melalui hadirnya persoalan tak terduga dari luar dirinya. Sampai dimana manusia
itu tetap tenang dan cerdas dalam menyikapi setiap hal terjadi dalam hidupnya. Faktanya
manusia tidak sekuat itu alih-alih katanya , “manusia punya batas kesabaran” dan
bukti yang kita lihat banyaknya kejahatan yang terjadi dalam kehidupan dan
sekitar kita.
Yesus tidak pernah mengajarkan
muridNya dan kita semua untuk meminta kekuatan saat berdoa. Bahkan dari Doa
Bapa kami kita bisa melihat makna yang terkandung dalam setiap kata yang
diucapkan adalah sikap kerendahan hati. Ketika di taman getsemani, pun Yesus
mengatakan, “Ya, Bapa Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu
dari pada ku, tetapi janganlah seperti yang Ku kehendaki, melainkan seperti
yang Engkau kehendaki.” Dari sini kita lihat Yesus saja tidak meminta kekuatan
saat mengalami kesakitan di taman itu, tetapi berserah pada Allah Bapa,
melepaskan dengan ihklas membiarkan sekiranya apa yang akan terjadi nanti.
Jadi yang menjadi alasan kenapa
agar tidak meminta kekuatan saat berdoa, yaitu seakan-seakan manusia merasa
dirinya mampu dan cenderung tidak adanya sikap berserah dan merendahkan hatinya
kepada Allah pencipta alam semesta, mereka merasa mampu mengendalikan persoalan
yang terjadi dari luar dirinya tanpa menyadari bahwa berserah pada Tuhan adalah
sikap kerendahan hati.
Semantara itu meminta kekuatan
sama halnya dengan meminta cobaan. Dalam hidup ini terkadang apa yang terjadi
dalam hidup kita adalah sebagian dari
apa yang kita minta melalui apa yang kita pikirkan, kita lakukan, dan kita
ucapkan bahkan kita rasakan. Baik dan buruk pun itu akan terjadi kepada kita
maupun orang lain. Ketika kita melakukan hal itu, sama halnya dengan kita
menginginkannya, meskipun dalam hati kita supaya hal itu tidak terjadi dan
terjauhkan dari kita selama kita memikirkan secara terus menerus maka bisa dipastikan
akan terjadi.
Pernahkah kamu mendengar kalimat
ini, “manusia itu apa yang ia pikirkan.” Yang artinya apa yang terjadi pada
manusia adalah sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
Aku beritahu salah satu dasar hukum
alam semesta, yaitu Hukum Tarik Menarik, orang-orang menyebutnya dengan Law Of
Atraction atau LOA, arti hukum ini adalah pikiran kita, ucapan kita, perasaan
kita akan terpancar oleh alam semesta dan akan dipantulkan kembali kepada diri
kita maka apapun yg kita pikirkan seakan-akan keinginan kita.
Ketika kita memikirkan hal baik,
berprasangka yang baik, berperasaan yang baik maka segalanya akan baik. Sebaliknya
jika merasa mencemaskan akan sesuatu, berpikir negative, menilai yang buruk,
emosi yang tidak stabil, marah, sedih maka yang kita cemaskan, yang kita
ucapkan dan kita rasakan adalah terjadi kepada kita. Karena hal itu dianggap
keinginan kita.
“ucapan adalah Doa.” Begitulah
kata-kata orang lain. Apa yang terucap oleh bibir adalah berasal dari pikiran
kita. Semesta tidak mengenal kata amit-amit, semesta tidak mengenal kata ingin
tapi bagaimana perasaan kita, pikiran kita, energi kita itulah yang direkam semesta.
Inilah alasannya kenapa dikatakan meminta kekuatan sama dengan meminta cobaan. Kenapa demikian? Karena ketika kamu meminta kekuatan, yang ada dalam pikiran mu dan perasaan mu cobaan itu selalu ada dan akan ada, seakan-akan kamu tidak ingin itu terjadi, tetapi itulah yang terekam semesta dari dirimu.
***
Kedua pandangan ini tidak jauh dan tidak berlawanan arah. Keduanya saling terhubung dalam satu kesatuan.
Pada pandangan pertama kita
diminta untuk lebih berserah tanpa meminta kekuatan. Karena ketika kita
berserah dan membiarkan hidup kita di tuntun oleh Tuhan, maka segala sesuatu
dalam hidup kita disertaiNya, tidak hanya dengan jiwa raga kita melainkan
pikiran dan hati kita.
Pada pandangan kedua ketika kita
bedoa kita berserah dan meminta agar disertai maka dalam hati dan pikiran kita adalah,
penyertaan, situasi yang baik, maka itulah terekam oleh semesta dan dipancarkan
kembali kepda kita.
Maka dari itu minta lah
penyertaan ketika bedoa, dimana pun dan kapan pun, maka segala sesuatu yang
baik terjadi dalam hidupmu.

Komentar
Posting Komentar