"Aku percaya jika memang kamu mencintai aku, Kamu tidak akan pergi, Kamu ngga akan ninggalin aku"
Aku membaringkan tubuhku diatas tempat tidur untuk melepas rasa lelah ku karena telah bekerja seharian. Aku berbaring tepat disamping pujaan hatiku dan menghadap pada kekasih ku itu. Kami berbincang banyak hal perihal pekerjaan dan hal lainnya. Tiba tiba ponsel ku berbunyi menandakan sebuah pesan masuk lewat aplikasi whatsapp ku.
"Yang, hp kamu bunyi tuh" katanya.
"Ya yang aku ambil bentar yah."jawabku
Lalu segera aku meraih gawaiku yang tadi aku letakka dimeja samping tempat tidur, lalu segera aku membuka aplikasi whatsap ku dan mulai membaca isi pesan masuk itu.
"Sayang aku udah sampai, kapan sayang mau nemuin aku?" Itulah isi dari pada pesan yang masuk dalam whatsapp ku, sebelum aku balas pesan itu Mira kekasih yang disampingku langsung menanyai perihal siapa yang telah mengirimkan pesan untukku malam malam begini.
"Siapa yank? Fani yah?" Tanya nya pensaran?
"Ya yank, Fani." Jawabku. Lalu aku mulai membalas pesan dari fani saat itu juga mira membalikkan tubuhnya menghadap ke dinding dan membelakangi aku.
"Aku belum ada waktu yank, sabar yah. Soalnya aku masih ada banyak kerjaan disini."
"Yaudah yank aku tungguin aja sampai pekerjaan mu benar benar selesai."
"Ya yank, tunggu yah. Aku pasti datang 😊."
Sahutku. Selesai aku membalas pesan itu aku segera meletakkan kembali gawai ku diatas meja yang disamping tempat tidur. Aku segera melihat mira yang tengah menghadap ke dinding, segera aku mendekatinya dan mulai memeluknya dari belakang.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Kataku sedikit berbisik didekat telinganya.
"Katakanlah."
"Sayang lihatlah aku dulu." Pintaku supaya mira berbalik menghadapku. Lalu mira pun membalikkan badannya dan menghadapku.
"Yaudah syang mau bilang apa?"
"Kan minggu depan pekerjaan ku selesai dari clien."
"Terus?" Tanya mira
"Minggu depan aku kecirebon yah, nemuin Fani. Ngga apa apa kan yang?"
"Ada dua pilihan harus sayang pilih. Pertama, kalau kamu emang sayang sama aku, jangan pergi. Aku mau kamu putus aja sama dia. Kedua, kalo kamu sayang sama dia, silahkan pergi tapi jangan pernah kembali." Mira menegaskan aku agar aku segera memilih diantara mereka.
"Kok gitu?" Tanya ku.
"Jadi kamu maunya apa?" Tanya mira kembali padaku.
"Sekarang kamu pilih aku atau dia?" Lanjutnya. Sumpah sangat bingung sekali harus bilang apa ke mira, pasalnya aku mencintai mira, aku sayang dengan dia, walau mira adalah kekasih keduaku aku tidak ingin kehilangannya. Disisi lain, aku tidak mau menyakiti fani, aku tidak tega menyakitinya, aku tidak sampai hati kalao harus menyakitinya apapun alasannya.
"Sayang aku tidak mau kalau harus putus dengan kamu. Aku ngga mau kehilangan kamu, aku cinta sama kamu. Tapi aku juga tidak bisa ninggalin dia." Kataku.
"Sayang aku mohon biarkan aku menemuinya, sebentar saja. Aku tidak akan lama disana. Aku akan segera pulang, kembali buat kamu." Pintaku memohon agar supaya mira meng ijinkan aku pergi.
Aku lalu melihat mira terdiam, entah apa yang ia fikirkan, aku tahu dia mungkin sangat terluka dengan sikap ku ini, tapi aku tidak bisa memilih satu diantaranya.
"Baikalh yank." Katanya membuka kembali pembicaraan segera ia kembali melanjutkan kata katanya.
"Aku ijinkan kamu pergi, aku akan mencoba percaya dengan kata kata mu, aku akan menunggu sampai kamu kembali." Katanya lirih, aku melihat ia seperti berusaha menahan air matanya menangis lalu kuraih dia dan mendekatkan dengan dirinya dengan pelukanku. Lalu aku mendengar isakan tangis mira dalam pelukanku, aku lalu melepas pelukan ku dan mengusap air matanya. Setelah itu aku membujuknya agar ia tidak marah lagi, aku berusaha menghiburnya kembali agar ia ceria kembali seperti sebelumnya.
* * *
Seminggu telah berlalu, semua pekerjaanku telah aku selesaikan, tibalah waktunya aku akan menepati janjiku pada Fani, bahwa aku akan datang menemuinya. Aku mempersiapkan segala perlengkapanku selama disana nanti. Hingga saat semua sudah beres dan aku melihat mira yang tengah tertidur dengan lelapnya. Aku akan segera pergi meninggalkan dirinya, membiarkan dia disini dikota ini sendiri, dia akan merasakan sepi tanpa hadirku lagi disini sendiri. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana ia disini tanpa kehadiranku. Jujur aku sangat sedih saat akan meninggalkannya walau hanya sesaat.
Pagi ini, aku bangun begitu cepat agar tidak ketinggalan pesawat, aku bergegas melangkahkan kaki masuk dalam kamar mandi. Selesai mandi, aku melihat mira begitu ceria seperti hari hari biasanya, ia sedang sibuk mempersiapkan sarapan kami berdua, aku bingung apa yang tengah ia fikirkan saat ini, apakah ia ikhlas saat aku akan pergi? Ataukah dia ada penggantiku dihatinya nanti saat aku tak ada? Aku tidak tahu pasti.
"Yank, hari ini aku jadi pergi yah." Kataku membuka pembicaraan.
"Ya yank, aku tahu kok, makanya aku siapin ini semua biar sayang ngga terlambat ke bandara" jawabnya.
"Sayang kamu ga marah lagi kan?" Tanyaku memastikan.
"Ngga kok sayang, buat aku marah2 terus?" Jawabnya.
"Aku percaya kamu sayang, aku akan tunggu sampai kamu akan kembali, aku udah ikhlas. Aku juga tidak melarang kan, jika memang kamu masih mencintainya juga. Lagian selama ini waktu mu hanya untukku saja. Sekarang mungkin waktumu cuma buat dia. Semoga kamu bisa membuat dia bahagia, seperti kamu membuatku bahagia selama ini." Lanjutnya, aku sungguh tak menyangka bahwa mira akan berkata hal seperti ini, dia ikhlas aku pergi.
"Yaudah kalo gitu kamu tungguin aku kembali yah, buat kamu." Kataku sambil tersenyum dan ia pun mengangguk.
Menuju bandara, aku tidak berhenti memikirkan mira, bagai mana jika nanti ia tanpa aku? Atau bagai mana jika aku akan kangen sama dia? Sungguh hatiku sangat gelisah sedari tadi. Hingga sampai dibandara aku mulai tidak fokus. Selesai ceck in aku duduk diruang tunggu. Aku mengotak atik gawaiku, seskali aku membuka akun media sosialku, tiba tiba poselku berdering segera aku melihat layar ponselku, ternyata fani sedang menelponku.
"Hallo.." kataku setelah aku selesai mengusap layar ponselku tepat pada icon telepon berwarna hijau. Tanpa menunggu balasan dari seberang sana.
"Ada yang ingin aku katakan." Kataku.
"Aku juga ada yang ingin aku katakan yank."
"Oh ya kah sayang? Apa itu?" Tanyaku
"Mungkin kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi, aku tahu telah jahat nyakitin kamu sebegini. Bukannya aku sudah tak cinta namun demi anak ku aku kembali rujuk dengan suamiku. Sayang maafin aku yah. Aku tahu ini berat untukmu tapi aku juga tidak bisa menolak lamaran suamiku kembali, demi anak ku." Jawabnya. Aku sedikit terkejut dengan pengkuan fani. Sampai sampai aku tak dapat berkata apapun.
"Eh oh ya tadi kamu juga mau bilang sesuatu. Mau bilang apa yank?" Tanya fani kembali.
"Oh em, aku juga tadinya ingin mengatakan itu tapi ternyata kamu sudah mengatakannya."
"Aku tidak mengerti sayang. Bisa jelasin lagi?"tanya fani ingin tahu lebih jelas.
"Aku juga ingin mengatakan akan mengakhiri hubungan ini, karena aku pikir mungkin sebaiknya kamu harus lebih fokus dengan keluarga dan anakmu." Kataku menjelaskan kepada fani.
"Oh yasudah kalau begitu, mungkin hubungan kita cukup sampai disini saja. Sayang maafin aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama."
"Ya sayang. Aku juga minta maaf karena tidak bisa menepati janjiku pada mu." Selesai kami berbicara, kami segera menutup teleponnya. Aku lalu bergegas pulang kerumah dan menemui mira sendiri.
Sampai aku dirumah, mira begitu kaget melihatku seperti tidak percaya bahwa aku kembali dan tahu kalau aku tidak berangkat, aku lalu mendekati mira dengan spontan aku meraihnya dan aku segera memeluknya dan ia kembali menangis dalam pelukanku. Lalu ia melepaskan pelukanku dan berkata bahwa ia takut jika aku tidak akan kembali, lalu akupun kembali memeluknya.
SELESAI

Komentar
Posting Komentar